Interaksi Obat dengan Protein Tubuh dan Hubungan dengan Sifat-Sifat Fisiko Kimia Obat
Interaksi obat dengan protein dapat terjadi ketika obat mengikat protein dalam tubuh, seperti enzim, hormon, atau protein pengangkut, seperti albumin dalam darah. Ketika obat mengikat protein ini, hal itu dapat mempengaruhi efektivitas obat dalam tubuh dan juga mempengaruhi interaksi obat lain yang mungkin sedang dikonsumsi oleh seseorang.
Sifat fisiko-kimia obat dapat mempengaruhi interaksi obat dengan protein dalam tubuh. Sebagai contoh, kelarutan obat dapat mempengaruhi kemampuan obat untuk diabsorpsi dan didistribusikan ke dalam tubuh, dan juga dapat mempengaruhi kemampuan obat untuk berinteraksi dengan protein. Obat yang larut dalam air atau pelarut organik tertentu cenderung lebih mudah diabsorpsi dan didistribusikan ke dalam tubuh daripada obat yang tidak larut dalam air atau pelarut organik tersebut.
Link : https://youtu.be/9PAW9koMdfY
Interaksi obat dengan protein dapat menyebabkan ikatan kovalen dengan protein dalam tubuh yang dapat mengubah aktifitas biologis protein dalam tubuh, dimana contoh dari obatnya yaitu aspirin. Bagaimana mekanisme aspirin ini membentuk ikatan kovalen dengan protein didalam tubuh?
BalasHapusAspirin (asam asetilsalisilat) membentuk ikatan kovalen dengan protein melalui mekanisme yang disebut dengan asetilasi protein. Asetilasi protein terjadi saat gugus asetil dari aspirin bereaksi dengan gugus amina pada residu lisin pada protein tubuh. Ketika aspirin diserap ke dalam tubuh, kemudian dihidrolisis menjadi asam salisilat, selanjutnya akan diubah lagi menjadi asam salisilat terionisasi (salisilat anion) di dalam plasma. Salisilat anion inilah yang akan melakukan reaksi asetilasi pada protein tubuh. Ketika salisilat anion ini sudah terbentuk, ia kemudian dapat merebut proton dari gugus hidrogen pada residu lisin, sehingga membentuk gugus amina yang lebih reaktif. Gugus amina ini kemudian bereaksi dengan gugus asetil dari salisilat anion tadi dan membentuk ikatan kovalen yang stabil antara salisilat dan residu lisin pada protein.
HapusInteraksi obat dengan protein juga dapat menyebabkan pergantian substrat yang biasanya obat ini akan berikatan dengan protein tubuh, dimana metroteksrat menggantikan asam folat dalam sintesis dna, bagaimana mekanisme dari pergantian substrat tersebut?
BalasHapusMetotreksat merupakan obat kemoterapi yang bekerja dengancara menghambat sintesis asam folat dalam sel. Asam folat ini dibutuhkan sel untuk sintesis DNA dan RNA. Metotreksat bekerja dengan cara menghambat enzim dihidrofolat reduktase (DHFR), enzim ini bertanggung jawab mengubah asam folat menjadi tetrahrofolat (THF) yang diperlukan dalam sintesis DNA. Mekanisme pergantian substrat ini terjadi melalui persaingan dengan asam folat pengikatan dnegan enzim DHFR. Hal ini dikarenakan metotreksat memiliki struktur kimia yang mirip dengan asam folat, sehingga dapat terjadi persaingan dalam berikatan dengan enzim DHFR. Ketika metotreksat berikatan dengan DHFR, molekul tersebut akan mengganggu konversi hidrofolat menjadi tetrahidrofolat aktif. Akibatnya, sel tidak dapat memproduksi asam folat yang cukup untuk sintesis nukleotida, yang merupakan komponen penting dalam sintesis DNA. Dengan menghambat produksi tetrahidrofolat aktif yang diperlukan untuk sintesis nukleotida, metotreksat menghambat pertumbuhan dan replikasi sel, yang merupakan dasar dari efek kemoterapi obat ini. Sehingga sel kanker yang berkembang menjadi terhambat pertumbuhannya.
HapusInteraksi obat dengan protein pada ikatan non kovalen itu contohnya kan antikoagulan heparin, bagaimana mekanismenya?
BalasHapusHeparin merupakan polisakarida yang tersulfasi dan dapat berikatan dengan berbagai protein di dalam tubuh, contohnya seperti antitrombin III (ATIII), trombin, dan juga Faktor Xa. Untuk berikatan dengan protein secara non-kovalen, itu melibatkan 2 interaksi, yaitu interaksi elektrostatik dan interaksi hidrogen. Untuk interaksi elektrostatik, heparin ini memiliki gugus sulfat dan karboksilat yang bermuatan negatif, sedangkan proteinnya seperti lisin dan arginin itu memiliki residu asam amino yang bermuatan positif. karena muatannya beralawanan, maka heparin dan protein dapat berinteraksi dan membentuk ikatan ionik yang kuat. Sedangkan untuk interaksi hidrogen, heparin memiliki gugus hidroksil yang dapat membentuk ikatan dengan residu asam amino pada protein yang memiliki gugus NH atau CO.
Hapus