Langsung ke konten utama

Kimia Medisinal 4

Interaksi Obat dengan Protein Tubuh dan Hubungan dengan Sifat-Sifat Fisiko Kimia Obat

Interaksi obat dengan protein dapat terjadi ketika obat mengikat protein dalam tubuh, seperti enzim, hormon, atau protein pengangkut, seperti albumin dalam darah. Ketika obat mengikat protein ini, hal itu dapat mempengaruhi efektivitas obat dalam tubuh dan juga mempengaruhi interaksi obat lain yang mungkin sedang dikonsumsi oleh seseorang.

Sifat fisiko-kimia obat dapat mempengaruhi interaksi obat dengan protein dalam tubuh. Sebagai contoh, kelarutan obat dapat mempengaruhi kemampuan obat untuk diabsorpsi dan didistribusikan ke dalam tubuh, dan juga dapat mempengaruhi kemampuan obat untuk berinteraksi dengan protein. Obat yang larut dalam air atau pelarut organik tertentu cenderung lebih mudah diabsorpsi dan didistribusikan ke dalam tubuh daripada obat yang tidak larut dalam air atau pelarut organik tersebut.

Link : https://youtu.be/9PAW9koMdfY

Komentar

  1. Interaksi obat dengan protein dapat menyebabkan ikatan kovalen dengan protein dalam tubuh yang dapat mengubah aktifitas biologis protein dalam tubuh, dimana contoh dari obatnya yaitu aspirin. Bagaimana mekanisme aspirin ini membentuk ikatan kovalen dengan protein didalam tubuh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aspirin (asam asetilsalisilat) membentuk ikatan kovalen dengan protein melalui mekanisme yang disebut dengan asetilasi protein. Asetilasi protein terjadi saat gugus asetil dari aspirin bereaksi dengan gugus amina pada residu lisin pada protein tubuh. Ketika aspirin diserap ke dalam tubuh, kemudian dihidrolisis menjadi asam salisilat, selanjutnya akan diubah lagi menjadi asam salisilat terionisasi (salisilat anion) di dalam plasma. Salisilat anion inilah yang akan melakukan reaksi asetilasi pada protein tubuh. Ketika salisilat anion ini sudah terbentuk, ia kemudian dapat merebut proton dari gugus hidrogen pada residu lisin, sehingga membentuk gugus amina yang lebih reaktif. Gugus amina ini kemudian bereaksi dengan gugus asetil dari salisilat anion tadi dan membentuk ikatan kovalen yang stabil antara salisilat dan residu lisin pada protein.

      Hapus
  2. Interaksi obat dengan protein juga dapat menyebabkan pergantian substrat yang biasanya obat ini akan berikatan dengan protein tubuh, dimana metroteksrat menggantikan asam folat dalam sintesis dna, bagaimana mekanisme dari pergantian substrat tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Metotreksat merupakan obat kemoterapi yang bekerja dengancara menghambat sintesis asam folat dalam sel. Asam folat ini dibutuhkan sel untuk sintesis DNA dan RNA. Metotreksat bekerja dengan cara menghambat enzim dihidrofolat reduktase (DHFR), enzim ini bertanggung jawab mengubah asam folat menjadi tetrahrofolat (THF) yang diperlukan dalam sintesis DNA. Mekanisme pergantian substrat ini terjadi melalui persaingan dengan asam folat pengikatan dnegan enzim DHFR. Hal ini dikarenakan metotreksat memiliki struktur kimia yang mirip dengan asam folat, sehingga dapat terjadi persaingan dalam berikatan dengan enzim DHFR. Ketika metotreksat berikatan dengan DHFR, molekul tersebut akan mengganggu konversi hidrofolat menjadi tetrahidrofolat aktif. Akibatnya, sel tidak dapat memproduksi asam folat yang cukup untuk sintesis nukleotida, yang merupakan komponen penting dalam sintesis DNA. Dengan menghambat produksi tetrahidrofolat aktif yang diperlukan untuk sintesis nukleotida, metotreksat menghambat pertumbuhan dan replikasi sel, yang merupakan dasar dari efek kemoterapi obat ini. Sehingga sel kanker yang berkembang menjadi terhambat pertumbuhannya.

      Hapus
  3. Interaksi obat dengan protein pada ikatan non kovalen itu contohnya kan antikoagulan heparin, bagaimana mekanismenya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heparin merupakan polisakarida yang tersulfasi dan dapat berikatan dengan berbagai protein di dalam tubuh, contohnya seperti antitrombin III (ATIII), trombin, dan juga Faktor Xa. Untuk berikatan dengan protein secara non-kovalen, itu melibatkan 2 interaksi, yaitu interaksi elektrostatik dan interaksi hidrogen. Untuk interaksi elektrostatik, heparin ini memiliki gugus sulfat dan karboksilat yang bermuatan negatif, sedangkan proteinnya seperti lisin dan arginin itu memiliki residu asam amino yang bermuatan positif. karena muatannya beralawanan, maka heparin dan protein dapat berinteraksi dan membentuk ikatan ionik yang kuat. Sedangkan untuk interaksi hidrogen, heparin memiliki gugus hidroksil yang dapat membentuk ikatan dengan residu asam amino pada protein yang memiliki gugus NH atau CO.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kimia Medisinal 11

 Jalur Utama Metabolisme dan Xenobiotik Jalur umum metabolisme dan jalur metabolisme xenobiotik adalah dua jalur metabolisme yang berbeda dalam tubuh manusia. Jalur umum metabolisme adalah proses biokimia yang terjadi di dalam tubuh untuk mengubah zat-zat yang berasal dari makanan atau sumber energi lainnya menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh, seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Jalur ini melibatkan berbagai enzim dan reaksi kimia yang kompleks, termasuk glikolisis, siklus Krebs, dan fosforilasi oksidatif. Sementara itu, jalur metabolisme xenobiotik melibatkan proses biokimia yang terjadi dalam tubuh untuk mengubah zat-zat yang tidak umum atau asing bagi tubuh, seperti obat-obatan, pestisida, dan bahan kimia industri, menjadi bentuk yang dapat dieliminasi dari tubuh. Jalur ini melibatkan enzim-enzim yang disebut sitokrom P450 dan reaksi kimia lainnya yang berguna untuk mengubah struktur kimia dari zat asing menjadi lebih mudah untuk dieliminasi oleh tubuh, seperti m...

Kimia Medisinal 6

Hubungan Struktur & Sifat Fisiko Kimia dengan Aktivitas Biologis Suatu Turunan Obat Desain Turunan Senyawa Leonurin Sebagai Kandidat Obat Antiinflamasi  Hubungan struktur dan sifat fisiko-kimia dengan aktivitas biologis suatu turunan obat sangatlah erat. Struktur molekul dapat mempengaruhi interaksi dengan reseptor target di dalam sel dan mempengaruhi aktivitas biologis. Sifat fisiko-kimia seperti kelarutan, polaritas, dan ukuran molekul juga dapat mempengaruhi permeabilitas membran sel dan bioavailabilitas obat. Oleh karena itu, dalam desain turunan obat, perubahan struktur molekul dan sifat fisiko-kimia harus dipertimbangkan dengan cermat untuk mencapai aktivitas biologis yang optimal. Penerapan teknik dan metode komputasi seperti docking molekuler dan QSAR dapat membantu memprediksi aktivitas biologis dari turunan obat yang dirancang sebelum diuji secara eksperimental. Dalam pengembangan obat, pemahaman yang baik tentang hubungan antara struktur dan aktivitas biol...

Kimia Medisinal 15

 Jalur Deaktivasi dan Eliminasi Obat Jalur inaktivasi dan ekskresi obat mengacu pada proses dalam tubuh yang bertanggung jawab untuk mengubah dan mengeluarkan obat dari tubuh. Ini melibatkan beberapa mekanisme termasuk metabolisme obat oleh enzim hati, ekskresi obat ginjal, dan ekskresi obat melalui keringat, air liur, dan feses. Jalur pensinyalan inaktivasi obat melibatkan enzim yang terletak di hati, sebagian besar dari keluarga enzim sitokrom P450 (CYP). Enzim ini bertanggung jawab untuk mengubah struktur kimia obat sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh. Metabolisme obat ini dapat menghasilkan metabolit yang kurang aktif atau tidak aktif, yang kemudian diekskresikan. Ekskresi obat terjadi terutama melalui ginjal. Setelah dimetabolisme di hati, obat dan metabolitnya masuk ke aliran darah dan diangkut ke ginjal. Di ginjal, obat disaring dari darah ke dalam urin melalui filtrasi glomerulus. Selain itu, bahan aktif dapat diserap kembali ke dalam darah atau dikeluarkan melalui urin m...